Showing posts with label Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Inspirasi. Show all posts

Friday, September 14, 2012

CITA-CITA ANAK


Lumayan lama ga update blog ini, terlebih akhir2 ini punya mainan baru di http://www.indonesiaprofitclicking.com (padahal masih ada 3 domain lain yang sudah dibeli tapi belum digarap kontennya, ibarate pesen kapling dulu tapi belum dibangun hehe)
Bicara tentang cita2 anak, ato juga cita2 semasa kita anak2 seringkali menemukan beragam kelucuan. Walaupun ada yang berbeda kultur kita dulu dengan anak2 era sekarang. Dulu, cita2 anak seringkali yang terungkapkan terdengar sangat ‘umum’ dan seperti ga banyak pilihan varian. Arsitek, insinyur, dokter, pilot, guru adalah beberapa contoh pilihan yang umum diinginkan anak2 jaman dulu. Tak banyak yang berani (terlebih di depan guru sekolah ataupun orang tua sekalipun) bercita2 menjadi artis, seniman, penulis ato pun hal2 lain yang dianggap ’berbeda’ bahkan aneh dan mungkin dianggap tidak memberi jaminan status dan finansial.
Sangat berbeda dengan anak2 era sekarang yang secara kultur lebih bisa ‘terbuka’, dan beberapa profesi yang dulu dianggap tidak mampu memberi jaminan status sosial dan finansial saat ini telah berbeda kesimpulan. Weiitts ...lha kok dadi serius ! (sori sekedar prolog aja)

Monday, September 19, 2011

Aku jg pernah 'selingkuh'

Yap, ini serius ga bohong ... ketika selingkuh diartikan sebagai menduakan, men-tigakan ..... sesuatu yg menjadi pilihan pertama kita. Dan jelas jg bahwa hati nurani kita akan merasa bersalah, berdosa sebelum kemudian otak kiri dan ego kita memberikan apologi 'pembenaran' alasan 'perselingkuhan' tersebut .....

Weitttsss ..... tunggu dulu, jangan berprasangka terlalu jauh dulu. Ini bukan masalah rumah tangga, ataupun perselingkuhan cinta, tapi 'perselingkuhan' kerja !

Mangsudnya ??

Ketika masih berstatus sebagai 'karyawan' (bukan berarti sekarang nyombong sebagai juragan ato bos), aku lebih dari tiga kali pindah kerjaan. Tapi satu hal yang relatif sama, ternyata aku sebenarnya ga terlalu kerasan. Boring n suntuk dgn kerjaan biasanya kepake untuk surfing internet, ngobrol dgn temen kerja yang sama sekali ga ada hubungan masalah tanggung jawab kerjaan, bahkan pernah juga nyuri waktu untuk tidur pada jam kerja. Sepertinya sekedar menghabiskan waktu menunggu jam pulang.

Ketika di lapangan pun seringkali menyempatkan mampir entah kemana yg jelas itu semuanya ga ada hubungannya dgn kerjaan. Terlebih ketika dorongan pingin buka usaha sendiri mulai kenceng, nada-nada 'perselingkuhan' mulai menggoda dgn penuh kesadaran. Dilematis, nurani yang merasa bersalah karena kemudian memanfaatkan waktu, tenaga, pikiran, serta fasilitas kantor tidak cuma untuk kerjaan kantor (walaupun emang kemudian membuat 'pembenaran' sendiri) tapi juga 'menyempatkan' semua hal tsb untuk menduakan, men-tigakan pekerjaan. Mungkin kalo hal tsb dilakukan di luar jam kantor, ga masalah, sah2 saja ..... masalahnya ini aku lakukan pada jam kantor parahnya seringkali menggunakan fasilitas kantor ......

Bisa jadi kejadian yang analog dgn yg aku alami di atas sudah jamak terjadi, bukan sesuatu yang aneh, jangan2 malah ketika aku merasa 'mempermasalahkan' ini malah dianggap aneh ....
Tapi coba, sebelum memberikan sederet 'pembenaran' oleh olahan otak kita, rasakan dulu dengan nurani yang pastinya jujur, kira2 bener2 nyaman ngga kita melakukannya, ato setidaknya coba bayangkan seandainya kita berlaku sebagai pemilik perusahaan yang kemudian mendapati polah karyawan kita spt itu ...

Rasa ngga nyaman yang aku rasakan saat itu yang kemudian menuntunku memilih keputusan resign. Alasan tambahannya aku pingin menjemput keberkahan (sebab keberkahan bukan sekedar ditunggu), aku pingin mampu memberi manfaat n mencukupkan orang lain sb dgn begitu, yakin bahwa otomatis aku n keluargaku jg akan tercukupi ....
Trigger-nya, kemudian ada nasehat Pak Haji Alay (sesepuh Komunitas Tangan Di Atas) kurang lebihnya,"Seratus rupiah hasil kamu jualan kerupuk sendiri Insya Allah lebih barokah dibanding satu juta kamu di-GAJI orang lain" (maaf bkn bermaksud mendeskreditkan yg saat ini msh sbg karyawan ...)
Ini masalah KEYAKINAN HATI yg sifatnya sangat personal ...
Dan alhamdulillah ternyata Allah punya cara yang sangat elegan untuk 'memaksaku' resign dari perusahaan.

Bagaimana dgn kondisi hasil yang sekarang ...?? sambil menunggu ajal menjemput semuanya msh berproses. Dan rasanya lebih nyaman mengingat n mensyukuri yg telah Allah berikan dibanding mempermasalahkan hal2 blm didapatkan ......
.

Sunday, September 18, 2011

Tidak Pernah Ada Penonton Terbaik ...

Yang semalam sempat nonton pertandingan MU-Chelsea tentunya melihat dua kejadian 'bodoh' oleh masing2 kubu. Pertama dari kubu MU, kegagalan penalti Rooney akibat terpeleset sehingga bola jauh melebar, kedua dari kubu Chelsea ketika Torres yang sudah berhasil mengecoh dua pemain belakang MU sekaligus mampu melewati Kiper De Gea akhirnya juga gagal menyarangkan bola ke gawang MU.
Peluang keduanya relatif bisa dikatakan 99,9999 ...% Yang sebagian terjadi adalah respon penonton, tentu muncul makian, cemoohan bahkan bisa jadi menganggap kegagalan keduanya 'like idiot'. Manusiawi mereka merespon spt itu, dan itu hak mereka ...tokh ga bayar juga mereka mau berkomentar bahkan mengumpat sekalipun ... mereka lupa biarpun sdh di depan gawang kalo namanya bola ngga masuk ya ngga gol .. n ngga merubah skor ...bener to ha ha...

Tapi catatannya di sini adalah sekeras apapun mereka -para penonton- memaki n mengumpat 'kebodohan' Rooney maupun Torres, ato juga sepinter apapun para penonton berkomentar memberi teori harusnya nendang begini, nendangnya begitu ...tetep aja ngga merubah realitas bahwa tidak pernah ada penghargaan PENONTON TERBAIK baik yang datang langsung di Old Trafford tempat penyelenggaraan pertandingan, yang nonton bareng di cafe, yang nonton di rumah apalagi yang sekedar numpang nonton di kamar kost temen (masih minta suguhan lg ... artinya bener2 ngga modal cuma modal C alias C***kem (mulut -red) he he
Sebaliknya, sejarah tetap mencatat bahwa Wayne Rooney dan Fernando Torres adalah dua dari sederet pemain top dunia. Dedikasi n permainan termasuk gol-gol cantik sebelum n sesudah pertandingan tadi malam akan tetap tercatat sebagai permainan mereka kelas dunia ... tanpa terpengaruh oleh se'idiot' apapun para penonton tadi malam mengumpat kegagalannya ...

Ironi bahkan sarkasme seperti itu seringkali kita temui dalam kehidupan keseharian kita. Banyak yang masih 'bangga' sebagai penonton, sekaligus komentator dengan sederet teoritis yang terkadang sotoyyy .... (sok tau -red). Tetapi mereka belum tercatat bahkan belum berupaya menjadi 'pemain' yang memungkinkan orang mencatat sejarah prestasinya.

Di bidang apapun kita akan memilih menjadi 'pemain' ato akan tetap bangga sebagai 'penonton' yang selamanya tidak akan pernah tercatat dalam sejarah prestasi .... !!!

http://www.goal.com/id-ID/news/1108/sepakbola-inggris/2011/09/19/2671904/andre-villas-boas-tak-salahkan-blunder-fernando-torres

Friday, December 25, 2009

Terima Kasih (lagi) TDA !

Saat ini aku masih belum kelar berproses. Ukuran keberhasilan emang tidak harus selalu nominal finansial. Banyak yang patut disyukuri atas karunia-Nya melebihi rasa syukur adanya limpahan finansial misalnya.

Aku, salah satu dari ribuan member Komunitas entrepreneur bernama Komunitas Tangan Di Atas, merasa patut berterima kasih adanya komunitas positif ini. Lebih khusus kepada mentornya antara lain : Pak Roni (Founder TDA), Fauzi Rahmanto, Faif Yusuf, Mas Hadi Kuntoro, Pak Harmanto, Mamih Ning, Pak Bambang Triwoko, Pak Yusuf Iskandar, Mas Yoyok ... dan sederet mentor lain juga temen2 yang seperjuangan di TDA (kangen ... lama ngga ngumpul). Belum semuanya aku pernah ketemu, tapi inspirasi dan tularan ilmunya Insya Allah sebagian telah terserap dalam memori otakku. Semoga keberkahan Allah terlimpah kepada mereka yang begitu 'murah' dan 'obral' ilmu, bisa jadi sebagian masih tersimpan di harddisk otakku, belum semua ilmunya terpraktekkan.

Terlebih untuk sesepuh TDA Pak Haji Alay, aku masih berusaha meyakini bahwa 'seratus rupiah dari Anda jualan kerupuk sendiri Insya Allah masih lebih berkah daripada Anda jadi karyawan'. Kalimat ini masih aku pegang, dan kalimat ini pula dulu aku berani resign dari kantor. Yach ... KEBERKAHAN itu yang sampe saat ini pingin aku kejar. Dengan keberkahan itu pula aku berharap kelak mampu membawa amanah istri dan anak2 yang dititipkan Allah kepadaku untuk bersama ke syurga-Nya. Insya Allah ... amin yaa rabbal 'alamiin

Dengan semua proses yang telah aku jalani, Insya Allah banyak rasa syukur yang patut aku haturkan ke Ilahi Rabbi juga rasa SABAR, agar tidak hanya nikmat-Nya yang akan ditambah ketika aku syukur, tapi dengan bersabar aku berharap Allah akan bersamaku, akan menyertai setiap langkahku ....

Menjalani Hidup dengan TAUHID

Dicopy dari tulisan Ust Yusuf Mansur :

Perjalanan hidup ini sepenuhnya rahasia Allah. Kita hanya perlu tahu bahwa Allah akan mengatur yang terbaik, sudah mengatur yang terbaik, dan memberikan hanya yang terbaik. Jalani hidup dengan percaya kepada Allah, ibadah sepenuh hati, dan pasrah akan Kehendak-Nya. Sekuat mungkin lakukan apa yang diperintah, baik wajib maupun apa-apa yang menjadi sunnat, dan tinggalkan kemaksiatan dan dosa. Barangkali inilah dari sekian rahasia supaya hidup mengalir tenang, aman, dan banyak kemudahan.

Dan dalam hidup ini, ada saja kemudian peristiwa yang kurang mengenakkan terjadi di dalam hidup kita. Sehingga kemudian jadilah kita bahagian orang yang malah tambah dekat dengan Allah, atau sebaliknya, malah meratapi dan menyumpahi hidup ini. Ada orang-orang yang Allah bukakan jalan kedekatan dengan-Nya, justru karena beban hidup yang bukan kepalang berat dan besarnya. Tapi ada yang bertambah jauh dengan Allah sebab kesulitan hidupnya. Begitulah. Hidup ini isinya barangkali hanya ada dua pilihan; jalan lurus dan jalan sesat; jalan syukur atau jalan kufur; jalan ibadah atau jalan maksiat.

Ada seorang yang merasa ga bisa memberi apa-apa buat orang tuanya, lalu bergaul dengan para hedonis dan mengambil “manfaat semu” dari sana. Ia berikan orang tuanya dunia. Tapi ia korbankan kehormatan dengan menjadi pelacur misalnya; baik pelacur bener maupun yang samar. Namun ada juga mereka-mereka yang ketika tidak bisa memberikan apa-apa ke orang tuanya lalu ia tempuh jalan anak-anak saleh untuk orang tuanya. Tidak ada dunia yang dibawa ke orang tuanya, tapi kebaikan demi kebaikan mengalir untuknya. Dan ini juga kelak akan menghasilkan cahaya dunia untuk dia dan orang tuanya.

Ada keluarga dan anak istri yang disuapi dari harta haram. Bahagia hidup bergelimang dunia tanpa keluarga dan anak istrinya sadar disuapi dari rizki haram. Kelak, banyak sekali masalah di keluarga ini. Salah satunya bisa saja justru keluarga ini bisa kehilangan sang suami. Atau suami yang kehilangan anak istri, sebab satu dua kejadian.

Ada orang miskin yang mengambil hak-hak orang dan menempuh jalan judi sebagai jalan yang bisa mengubah kemiskinannya. Banyak orang miskin yang kemudian menjadikan tangannya sebagai wasilah meminta-minta. Tidak sedikit orang miskin yang menjadi mitra tangan-tangan kotor lalu menyambung hidupnya dengan rizki kotor. Sebab itulah hidup mereka ini tetap miskin dan bertambah miskin. Kalaupun kemudian mereka-mereka ini kaya, mereka akan tetap miskin. Allah akan buat hidupnya selalu kurang dan tak terpuaskan. Bahkan tidak sedikit mereka yang jadi miskin lagi setelah mencicipi kekayaan, dan bertambah lagi dengan satu predikat: hina. Sudah miskin, hina. Misalnya sebab ketangkep, dipenjara, menderita satu penyakit, dan lain sebagainya.

Sementara itu, kita menemukan banyak juga orang miskin yang bertahan menjaga perutnya dari barang-barang yang haram. Ia kejar kemiskinannya itu dengan mempergiat bangun malam dan shalat dhuha. Ia prihatinkan diri dengan berpuasa sunnah. Dan ia jalankan hidup ini dengan ridha dan ikhlas. Bisa jadi hidupnya tetap miskin. Tapi Allah hadirkan ketenangan dalam hidupnya, rumah tangganya langgeng, rizkinya sedikit tapi jadi daging dan enak dimakan. Tidak berubah jadi penyakit. Petaka jarang sekali hadir di kehidupannya. Dan banyak kemudahan di tengah-tengah kekurangan; anak sakit, dikasih cepat sehat. Tanpa berobat. Anak kurang biaya, tapi Allah kirimkan beasiswa dari tangan orang lain. Tak punya kendaraan, tapi Allah hilangkan keperluan berkendaraan; bersaudara dekat-dekat, berkantor tinggal jalan kaki, dan lain-lain. Beda dengan sebagian dari kita, yang punya kendaraan, tapi Allah terbangkan ke sana kemari dengan kendaraannya itu, yang akhirnya malah bertambah-tambah jauh dari keluarga dan Allah. Bahkan Allah tambahkan kendaraan dengan kendaraan yang lebih hebat dan lebih mahal, yang malah menambah jauh dirinya dengan keluarga dan Allah.

Ada yang kepengen punya usaha, lalu mencari modal dari selain Allah. Sementara ada yang menggiatkan bangun malam dan dhuha, serta bersedekah. Ya, saya tidak sedikit menerima konselingan gagal bayar kredit. Usahanya halal, cara-cara usahanya benar. Ternyata sayang, di proses kreditnya, ada kebohongan dan suap. Banyak data dimanipulasi supaya kredit bisa cair, dan tidak jarang melakukan praktik suap walo sekedar dengan menjanjikan sesuatu bagi officernya. Atau ada yang prosesnya benar, ikhtiarnya benar, usahanya halal, tapi tetap bangkrut juga. Selidik punya selidik, shalat wajibnya jadi keteteran, shalat-shalat sunnahnya malahan jadi hilang. Hubungan dengan orang tua jadi jauh, dengan adik-adik malah tak ada silaturahim, dengan tetangga menjadi tak lagi dekat. Jika demikian, maka dicabut usahanya oleh Allah adalah jauh lebih baik. Sadari lagi saja, minta ampun sama Allah, dan ikhtiar lagi yang benar. Insya Allah, Allah akan berkenan memberi lagi apa yang dicabut-Nya. Ada di antara mereka yang bertahan tidak mengapa tidak diberi modal lagi untuk pengembangan usaha. Mereka merasa cukup. Sehingga tidak perlu mereka ini merekayasa laporan keuangan dan aset. Ternyata kemudian Allah berikan keselamatan buat mereka dan usahanya berkembang juga dengan izin dan takdir-Nya.

Ada orang yang kepengen kerja. Ia tempuh jalan-jalan kotor. Ia siapkan jalan pelicin. Dan tidak jarang perbuatannya itu yang melahirkan orang-orang kotor yang tadinya bersih. Pekerjaan ia dapatkan, namun keberkahan Allah hilangkan. Punya duit lebih dari tabungan setiap kali kerja, lalu Allah giring dia untuk membeli kendaraan. Baru sebulan dipake itu kendaraan, sudah mengantarkan maut untuk keluarganya. Mobil ringsek, keluarga celaka, uang terbuang sia-sia. Sementara ada yang meminta kepada Allah pekerjaan. Ia bertahan untuk tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan yang membuat Allah murka. Ia minta sama Allah lewat jalan ibadah. Ada yang belum Allah berikan pekerjaan, namun Allah tetap tanggung rizkinya dan hidupnya tetap mulia. Ga jadi hina sebab tak ada pekerjaan. Saya pun tidak sedikit menemukan yang begini ini. Tidak kerja, namun Allah menyediakan keperluan hidup baginya. Ia tidak menjadi beban buat orang lain, sebab ia tidak meminta. Banyaklah keanehan dari matematika dan mekanisme hidup ini.

Dan ada sebagian kawan yang bertanya, apakah selalu begitu ya? Bahwa yang berbuat baik mesti berkehidupan baik dan yang jahat akan berkehidupan buruk? Bisa ya bisa engga. Pertama, silahkan kembali ke pembahasan materi tentang ukuran anugerah dan masalah. Apakah betul rentetan masalah bener-bener disebut masalah? Bukan anugerah? Dan apakah benar rentetan keberuntungan disebut anugerah? Bukan justru masalah? Kacatama dan ukurannya pakai kacamata dan ukuran yang benar. Sekedar menyegarkan ingatan, anugerah itu adalah jika kita bisa dekat dan ingat sama Allah. Sungguhpun kita berada di situasi-situasi yang menurut orang, berkehidupan buruk. Orang mukmin akan menimati sekali kedekatan dengan Allah, meskipun dia ini cacat, miskin, hina dina dalam pandangan orang, dan serba kekurangan. Orang mukmin tidak akan bahagia bila dia dipandang bagus, mulia, terpandang, kaya, berkecukupan, namun Allah jauh darinya. Dan kemudian sebaliknya, disebut masalah itu adalah jika kita hidup jauh dari Allah dan lupa sama Allah. Ini justru masalah. Maka jika kemudian kita-kita ini hidup banyak uang, karir pekerjaan dan usaha juga sedang bagus-bagusnya, tidak akan ada guna juga jika bener-bener jauh dan lupa sama Allah. Hanya akan membawa petaka saja. Jika ukuran dan kacamatanya sudah benar, maka seseorang tidak akan salah menilai.

Kedua, bukan karena amal kita, lalu ditentukanlah hidup enak atau tidak enak. Bukan. Semata karena Kehendak Allah. Tapi orang mukmin akan senantiasa berhusnudzdzan, bahwa apapun yang ditetapkan Allah, ia akan ridha, ikhlas, sabar, syukur. Termasuk mereka-mereka yang bertaubat. Dia akan menerima segala kesusahan, dengan pengalihan kepada ampunan dan kasih sayangnya Allah (lihat-lihat pembahasan sebelumnya yang berkaitan dengan ini ya).
Kita tidak sendirian. Hidup ini ada yang punya. Bahkan kalau Yang Punya Hidup ini menginginkan kita menjadi sulit, ya tidak mengapa juga. Dengan keyakinan bahwa DIA Maha Mengatur dan Berkehendak, insya Allah kesulitan yang DIA beri, akan Allah ubah sendiri menjadi kemudahan.

Ya. Di dalam ilmu tauhid, mengenal Allah sebagai pusat segala kendali, memegang peranan penting untuk membangun ketenangan dan kebahagiaan. Mereka yang mengenal Allah, akan bersedia diatur, terserah kehendak-Nya. Dan tidak ada yang mengucapkan “ia bersedia diatur”, kecuali yang benar-benar ikut dan tunduk akan seruan-Nya. Sebab ga bisa seseorang mengatakan, “Saya mah insya Allah pasrah Mas”. Tapi kemudian ia tidak bergegas memenuhi panggilan Allah. Tidak pula ia bisa mengatakan, “Saya mengikuti seruan Allah”, bila kemudian hidupnya tiada ada ibadah yang serius.

Maka tanda-tanda seseorang itu bertuhan Allah adalah manakala ia bertakwa; Sekuat mungkin menjalankan perintah-Nya, dan sekuat mungkin meninggalkan apa yang dilarang-Nya.
Sering saya katakan dalam banyak forum. Keberhasilan seseorang menuju hidup enak, berhasil menggenggam dunia, dan hidup tanpa masalah, adalah dengan hanya meniti jalan takwa ini. Dan keberhasilan seseorang keluar dari kesulitannya, sungguh, apabila ia mampu meniti jalan ini. Barangkali jalan ini sempat ia tinggalkan, tapi kemudian ia balik lagi. Maka orang-orang seperti ini yang Allah akan anugerahkan jalan keluar.

“Wa may yattaqillaaha yaj’allahuu makhrajaa. Wayarzuqhuu min haitsu laa yahtasib. Wa may yatawakkal ‘alallaahi fahuwa hasbuhuu. Innallaah baalighu amrihii. Qad ja’alallaahu likulli syai-in qadraa. Sesiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan jadikan jalan-jalan keluar dari setiap kesulitannya dan menghadiahkannya dengan rizki yang tiada ia sangka-sangka. Dan barangsiapa yang memasrahkan dirinya maka Allah akan mencukupkannya. Allah meliputi semua urusan. Sungguh Allah telah jadikan segala sesuatu itu ada ukurannya”. (Qs. ath Thalaaq: 2-3).

Tuesday, December 22, 2009

Ibu ...

Rasanya tak akan pernah habis air mataku untuk ibuku. Dan aku sendiri tak pernah malu di hadapan siapapun aku menangis demi ibu. Dengan ibu banyak hal bisa menyebabkan aku cengeng. Tak pernah peduli apapun anggapan orang tentang kelelakian dengan tangisan. Bagiku tangis adalah hak juga bagian fitrah manusia, jadi tidak ada hubungannya dengan gender.

Hari Ibu, ketika sebagian masyarakat kita belum menganggapnya sesuatu yang penting, mampukah kita masing2 memberi makna khusus hari itu. Tak perlu diungkapkan ataupun dituliskan, tapi setidaknya apakah kita minimal ngeh bahwa dari rangkaian 365 hari dalam satu tahun, hari itu kita menyempatkan diri mengenang ibu (bagi yang telah almarhum), syukur bagi yang ibunya masih hidup sudahkah kita sekedar menelepon ketika mungkin kita jauh dengannya. Mengucap salam kepadanya sebagai ungkapan doa, menyapanya, mengucap terima kasih dan memohon ikhlas ridlonya, ataukah kita masing2 merasa terlalu sibuk dengan kehidupan dan pekerjaan masing2 sehingga merasa tidak ada sesuatu yang istimewa di hari itu untuk ibu?.


Aku sendiri merasa sangat bersyukur ketika 2 hari menjelang beliau dipanggil-Nya, aku masih menemainya dalam kondisi sehat. Maaf … aku menceritakannya kembali.


Ketika itu aku memaksa diri untuk ambil cuti kantor karena aku merasa harus ketemu dan sungkem ke Ibu. Entah, aku sendiri sejak merantau sekolah ke Jogja, tiap terbayang2 ibu aku merasa beliau sangat kangen, dan aku merasa perlu segera mengunjunginya. Sugestinya sedemikian kuat, sebab jika aku mencoba menundanya biasanya aku terkadang sakit, jatuh ataupun minimal perasaan gelisah. Perasaan itupun terulang. Dengan alasan sekalian menganter Salma liburan menjelang masuk kelas 1 SD aku memohon ijin ke De Yeyen untuk mengunjungi ibu. Singkatnya, Sabtu aku berangkat berdua dengan Salma rencananya pulang ke Jogja hari Selasa. Tapi hari Senin aku ditelepon kantor, Selasa diajak meeting mendadak. Aku pamit ke Ibu dan memastikan saat itu beliau sehat. Sakit yang beliau sering rasakan paling rematik di lututnya sehingga semingga sebelumnya ketika ponakanku mampir menyempatkan diri beliau pesen decker untuk menahan rasa rasikt di lutut khususnya ketika dipake sholat.


Hari Rabu sore selepas magrib dalam perjalanan sepulang jemput de Yeyen, ponakanku telepon mengabarkan aku harus pulang malam itu sebab Ibu MENINGGAL. Saat itu aku masih di depan Jogja Palace Hotel ? (Hotel Radisson). Kaget, jelas … sebab emang beliau ngga sakit. Setelahnya aku tahu beliau wafat dalam kondisi duduk di kursi, dalam keadaan berwudlu menjelang sholat magrib …. Subhanallah … innalillaahi wainna ilahi rojiuun. Doa beliau terkabul, beliau ingin meninggal gampang, tidak menyusahkan keluarga.


Terkadang bagiku dan istriku sepertinya beliau masih ada, semoga ini wujud kedekatan kami kepadanya. Aku masih jauh dari harapannya, tapi aku tetap yakin bahwa Allah akan mengabulkan harapan beliau untukku. Hutang terbesarku ke beliau adalah memberangkatkan haji. Makanya dalam beberapa tulisan blogku aku berharap pembaca mengamini doaku ini. Dan ketika doa itu terkabul para pembaca pun Insya Allah akan mendapatkan keberkahan dari-Nya.


Semasa hidupnya, Insya Allah beliau istiqomah sholat malam, membaca Surat Yasiin dan Arrahmaan, Sholat Dhuha. Insya Allah itu termasuk yang memudahkan Allah memanggilnya. Beliau bangun sekitar jam 3 pagi, ketika shubuh semuanya telah disiapkan minuman hangat, ada yang teh manis, kopi, susu, jahe. Ya … semuanya, bapak, anak, cucu, adik, ponakan sampe menantupun disiapkan.


Semuanya menjadi memori indah untuk kami. Menginspirasi langkah kami untuk mendedikasikan usaha kami demi beliau. Allah Maha Tahu, dan Allah Maha Mengabulkan segala doa hamba-Nya, doa ibuku untuk putra dan keturunannya. Dan hari itu aku merasa harus menambah porsi doaku untuk beliau walaupun aku yakin beliau telah mendapatkan tempat yang layak disisi-Nya sebab aku yakin beliau meninggal khusnul khotimah ….


Nah … saat ini ketika beliau sudah tiada, aku dan Salma, perhatian gantinya ke de Yeyen. Bangun tidur Salma telah memberikan hadiah kecil dibarengi pelukan dan ciuman ke Ibunya. De Yeyen sendiri terlalu sibuk nyiapin tugas audit ISO 9001 dan ISO 22000 untuk kantornya. Sarapan untuknya aku siapin, sekedar pingin memanjakan dan memberi perhatian lebih. Pingin mengajarkan ke anak, perlu sesuatu yang istimewa ke seorang Ibu, sebab dalam setiap langkahnya mereka telah memberikan keistimewaan ke kita, walaupun sebenarnya tak cukup tanggal 22 Desember aja ...

Sunday, October 25, 2009

Momentum Titik Balik

Insya Allah Kamis, 22 Oktober 2009 tempo hari aku telah menemukan momentum titik balik. Sementara belum aku share dulu sebab aku masih menunggu hasilnya sekitar satu dua bulan ke depan.

Kalo semuanya berjalan sesuai rencana, Subhanallah .... Allaahu Akbar ..... Aku masih meyakinkan diri bahwa ini bukan pilihan salah, semuanya tinggal mengikuti skenario yang digariskan oleh-Nya. Tidak ada yang kebetulan, sebab sebelum lahir pun semuanya telah ditulis-Nya. Kalo aku emang dipilih Allah menjadi bagian sejarah itu, sekali lagi aku hanya sanggup mengucap Subhanallah .... Allaahu Akbar ..... sekaligus beristighfar.

Sebuah gabungan teori Power of Giving, Quantum Ikhlas dan entah teori bisnis apa definisinya ... semoga memberi hasil sesuai rencana. Yaa ... Allah aku tetap mohon bimbinganmu untuk tetap bertawadlu kepada-Mu, dan tidak tuulul amal. Sebab Engkau telah menggariskan seberapa bagianku, dan seberapa yang bukan untukku ...

Aku mohon doa semuanya ......

Tuesday, October 6, 2009

Menjadi Anak Muda

Oleh Prie GS (Budayawan)


Tiga persoalan besar yang saya hadapi begitu menginjak remaja ialah : pertama saya yang terlahir sebagai anak keluarga miskin, kedua tubuh saya yang tak bisa tinggi dan ketiga adalah kedudukan saya sebagai rakyat sebuah negara yang penuh korupsi.

Saya akan mulai dari kemiskinan itu dengan kelaparan sebagai akibat fisiknya dan rendah diri sebagai akibat psikologisnya. Karena kelaparan itulah seluruh makanan yang saya makan saat itu, satu di antaranya adalah soto kantin sekolah, terekam rasanya hingga saat ini di lidah saya. Kabar baiknya ialah bahwa soto itu adalah soto terenak di dunia yang sampai saat ini sulit saya mencari gantinya. Kabar buruknya soto itu menjadi enak, pasti bukan cuma karena rasanya, tetapi pasti lebih karena kemiskinan saya. Kantin sekolah itu buka setiap hari, tapi adalah anugerah jika saya sanggup membelinya seminggu sekali. Maka hari ketika nasib baik itu datang, entah karena ditraktir teman, entah sekali waku mendapat uang saku, saya menikmati soto ini dengan rasa takut. Takut jika akhirnya suapan terakhir benar-benar tiba.

Setiap kunyahan sudah saya setarakan dengan masuk surga saking nikmatnya. Maka ketika sendokan terakhir tiba dan mangkok itu benar-benar tandas hingga ke kuahnya, saya seperti terlempar kembali ke neraka. Saya tak mungkin nambah sementara perut dan lidah masih begitu bernafsu. Efeknya sungguh dramatis; rasa itu tak mau hilang baik di lidah dan jiwa saya hingga hari ini. Saya kesulitan membuat penebusan karena seluruh soto di Indonesia yang saya cicipi, tak seenak soto kantin sekolah itu. Benarkah? Tentu tidak. Saat itu pasti karena saya memiliki seluruh modal untuk makan enak : yakni kelaparan dan derita.

Tetapi penderitaan perut itu baru setengah dari permainan, karena setengahnya lagi berisi persoalan yang tak kalah berat : yakni lapar jiwa. Ia bernama perasaan rendah diri yang parah. Cukup hanya dengan melihat orang lain hidup wajar saja, tak perlu mereka harus kaya raya, melainkan sekedar bisa makan normal tiga kali sehari, sudah mendatangkan ketakjuban luar biasa. Bagaimana mungkin ada kehidupan sebaik itu dan bagaimana mungkin ada perut yang bisa diisi makanan begitu tepat waktu.

Jika kepada pihak yang sekadar bisa makan saja kami sudah memiliki ketakjuban maka jangan tanya jika kami sedang memandang sebuah keluarga yang punya radio, punya sepeda dan malah punya warung makan. Tak pasti sebulan sekali keluarga kami bisa membeli sekadar nasi bungkus dari warung itu. Betapa beruntung seseorang yang dilahirkan sebagai anak pemiliknya. Salah seorang di antara anak itu adalah teman sekolah saya. Dan kepadanya saya memandangnya bak anak seorang raja.

Apa yang sedang berlangsung di dalam diri saya saat itu? Kelaparan perut yang telah menjalar menjadi kelaparan mental. Di dalam struktur hidup, saya adalah pihak yang langsung menempatkan diri di landasan. Jika hidup adalah sebuah piramida, saya segera menganggap bagian paling bawah adalah tempat saya. Kebahagiaan pihak lain adalah sebuah panggung pertunjukkan dengan saya cuma sanggup menjadi penontonnya. Saat itu, hidup cuma berisi penderitaan seluruhnya. Begitu penuh saya tertelan oleh perasaan menderita itu hingga melupakan sebuah sudut kemiskinan yang ternyata berisi soal-soal yang saya syukuri di hari ini. Apa itu? Kegemaran memandang segala sesuatu dengan totalitas penghayatan. Inilah kemampuan yang menjadi pilar penting hidup saya di hari ini, yang akan saya ceritakan nanti.Kedua adalah kenyataan saya sebagai laki-laki yang tubuhnya tetap saja sementara teman-teman lain terus meninggi. Fakta ini pada mulanya hanya melengkapi derita saya belaka. Tak peduli sesial apapun hidup orang lain, ia adalah orang yang beruntung jika sedikit saja lebih tinggi dari tubuh saya. Dan puncak penderitaan ini terjadi ketika saya jatuh cinta dan celakanya selalu dengan teman sekolah yang selalu lebih tinggi tubuhnya. Ada yang menyambut cinta saya cuma dengan tertawa ringan dan ada yang sebetulnya siap jadi pacar tapi lama-lama tertekan lalu tidak tahan dan memilih putus sebelum benar-benar nyambung.

Lengkap sudah modal derita saya waktu itu, tetapi janga lupa : lengkap juga modal totalitas saya menghayati sesuatu. Dua penderitaan itu adalah musibah besar sekaligus modal yang sama besarnya untuk membentuk hidup saya di hari ini yang akan saya ceritakan setelah saya melewati derita ketiga: yakni terlahir sebagai rakyat Indonesia.

Saya tumbuh di sebua Orde ketika negara ada dalam kemampuan semu. Pembangunan tumbuh cepat tanpa saya tahu bahwa itulah pembanguan yang dibayai oleh hutang. Dan setengah dari hutang itu ternyata cuma bocor di kantong-kantong pribadi yang membuat negara tumbuh dipenuhi ironi. Negara yang banyak hutang di satu sisi ini adalah juga negara yang hendak mengamankan diri dengan memagari diri dengan membuat tekanan di sekujur lini. Bahkan berimajinasi pun tak bebas lagi. Hasilnya kesenian di sekitar saya berlangsung kering dan setengah hati. Film-film buruk dan daya kreasi mampat sama sekali. Hidup sebagai orang miskin, tanpa tinggi badan memadai dan sebagai rakyat kecil di sebuah negara yang dipenuhi korupsi, adalah derita yang sempurna.

Tetapi di hari ini, tiga modal penderitaan itulah juga yang membuat saya merasa memiliki tiga modal hidup dengan kekuatan setara. Makin besar derita saya, makin besar modal hidup saya. Itulah kenapa Uni Soviet malah memiliki banyak pemenang Nobel di saat politik negara sedang begitu buruknya. Modal derita itu, jika benar arahnya, akan menjadi aset tak terkira. Saya tidak ingin mengatakan bahwa untuk memiliki aset, seseorang harus lebih dulu menderita. Tidak. Saya Cuma ingin menegaskan bahwa tidak ada yang harus ditakuti dari sebuah derita jika seseorang memang harus menghadapainya.

Kini saya merasa, penghayatan saya atas sebuah konteks menjadi baik sekali. Kemampuan membaca keadaan itu, setahu saya lalu menjadi refleks. Jika seorang sedang butuh didengar saya akan menjadi pendengar. Tapi jika mereka sedang memerlukan saya bicara, saya akan bicara. Dari membiasakan diri mendengar dan bicara sesuai konsteksnya ini saja, membuat hidup saya berubah. Begitu sebuah kemampuan membuahkan hasil, saya jadi bergairah mengembangkan kemampuan berikutnya. Begitulah memang watak manusia. Begitu penyulutnya tiba, ia akan terbakar dengan segera karena memang tersedia bahan bakar tak terkira jumlahnya di dalam jiwa kita.

Model derita itulah yang kemudian membakar saya. Dalam periode terbakar ini berubahlah segala peta hidup. Yang saya maksud perubahan itu tidak selalu harus buru-buru dikaitkan bahwa sekarang saya sudah kaya raya, misalnya (walau tanda-tanda untuk itu ada). Kekayaan material itu, bagi pribadi yang sudah terbakar hanya soal hitung-hitungan sederhana. Tetapi saya ingin mendahulukan kekayaan mental. Pada saat itulah, jika Anda mulai ada di tahapan ini, pribadi Anda akan mulai menjadi magnet. Tak perlu menjadi selebriti untuk punya magnet seperti ini, tetapi secara substansial Anda adalah seorang selebriti kehidupan walau wajah Anda tak pernah disorot televisi.

Lalu siapa yang harus mewaspadai derita yang pernah saya alami itu? Terutama adalah anak muda. Adalah keliru jika penderitaan mereka hanya bersumber dari kemiskinan, tinggi badan dan semacamnya. Penderitaan anak muda ternyata jauh melampaui batas-batas itu karena di dalam usia remajalah berlangsung apa yang disebut masa gelap orientasi. Di saat itulah seluruh soal bisa terlihat sebagai derita dan anak-anak muda itu harus diberi tahu, bahwa pandangan itu sungguh sangat menipu.

Semarang 29 Agustus 2009

Tuesday, September 29, 2009

Karena CINTA (Istri n Anak)

Ternyata begitu lama tulisan ini terputus n mandeg ngga update postingan. Asyik 'berproses' jadinya postingan terabaikan.

Salah satu pertimbangan aku resign dari kantor dulu, pingin lebih berkah. Waduh ... kok kayaknya sok bersih banget. Repotnya terkadang di masyarakat kita pingin bersih dibilang sok, bersikap jujur dibilang 'terlalu lurus' ... he he lurus kok dibilang terlalu, ato mungkin karena sudah begitu banyak yang bengkok sehingga yang lurus terlihat beda bahkan mungkin aneh, ngga umum ...

Sueeer ... terasa ngga nyaman ketika penyakit karyawan kumat, tiap ngumpul temen ngrasani bos, ngrasani kerjaan, merasa ngga imbang kerjaan n gajian. Implikasinya sering nyuri2 waktu n fasilitas untuk hal lain di luar kerjaan, entah komputer, internet, telepon dll.

Padahal semuanya kan nanti ada pertanggungjawaban. Ke Bos ato owner gampang aja, tokh mereka ngga tahu tiap detik n menitnya, tapi pertanggungjawaban ke Yaa Rabb sekecil apapun ngga akan ada yang terlewat. Nah.. ketika semuanya berusaha aku ganti dgn rintisan usahaku sendiri, Insya Allah pertanggungjawabanku hanya kepada Allah langsung.

Tak mudah menyampaikan alasan ini bahkan ke istri sekalipun yang sebenarnya saya belain. Reaksi pertama kaget ngga nyangka secepat itu, pinginnya 'amphibi' sampe semuanya 'siap'. Tapi pilhanku saat itu dah mantap dan Allah pun menyiapkan skenarionya begitu rapi n elegan. Ketika semua proses menuju lebih baik ini belum sepenuhnya mulus aku belum bisa banyak 'berjanji' lagi ke istri n anak. Kelak aku yakin mereka semuanya akan bener2 mengerti atas pilihanku itu, bahwa aku benar2 memilih demi mereka, setidaknya demi keberkahan mereka.

Hal lain, aku jadi lebih banyak punya waktu untuk mereka, walaupun sekarang malah jadi istriku yang lebih kurang punya waktu untuk kami, aku berusaha memaklumi sebagai pengorbanan dia demi cinta ke suami n anak juga ketika suaminya masih 'berproses' seperti saat ini.

Atas alasan keberkahan, kelonggaran waktu dan lainnya aku berusaha mewujudkan inilah bukti cintaku demi mereka. Dan akan terasa lebih lengkap jika wujud cintaku kepada mereka ini nantinya terimplikasi berupa materi yang lebih dibanding saat sebelum ini, semuanya hanyalah waktu aja ... aku yakin kok.

Luv u all, de Yeyen, Salma, n Nasywa semoga fantasi tentang rumah kita segera terwujud ...

Saturday, December 6, 2008

Karena CINTA I (Ibu)

(Tulisan ini mungkin agak panjang dan aku buat bersambung sebagai gambaran jawaban kenapa pada akhirnya aku akhir2 ini lebih konsen ke bisnis kuliner. Pertama karena alasan cinta Ibu, cinta Istriku, cinta anakku, dan terakhir cinta cashflow-nya he he)

Ketika bulan Dzulhijjah begini biasanya aku lebih banyak meneteskan air mata dibanding bulan2 yang lain. Ada catatan hutang besarku yang belum terbayar untuk Ibuku sampe beliau meninggal 13 Juni 2005 lalu (tepat satu bulan Bapak mertuaku meninggal 13 Mei tahun sama). Hutang tersebut adalah MEMBERANGKATKAN HAJI Bapak/Ibuku !. Ketika beberapa waktu lalu di televisi ada sinetron hikmah tentang tukang bubur yang berhasil memberangkatkan haji keluarganya, satu sisi aku geli (kebetulan sekarang aku juga jadi tukang bubur he he) sisi lain aku berharap aku bisa seperti cerita di sinetron tsb terlebih gambaran ibu yang diperankan Nani Wijaya mirip dengan gambaran ibuku keseharian apalagi kalo pake daster. Entah berapa kali sinetron yang digagas Ust. Yusuf Mansur tsb diputer aku ngga pernah bosan melihatnya, dan tetap istiqomah BERURAI air mata (mellooow banget!). Aku berharap siapapun yang membaca tulisan ini nantinya mampu mengamini niatku untuk tetap bisa membayar hutangku tsb kepada ibuku biarpun beliau telah tiada yang Insya Allah KHUSNUL KHOTIMAH. Ini permohonan serius, sehingga Insya Allah jika suatu saat aku telah membayar hutangku tsb tentulah jenengan semua teraliri keberkahan doanya. Amin yaa Rabbal 'alamiin...

Saat ini aku emang lebih konsen menekuni kuliner, dimulai Bubur Ayam Metropolis (ini lagi ancang2 nyari tempat untuk Metropolis-2 yang Insya Allah dibarengi kemunculan 'den Lembu; serba sapi). Ada beberapa alasan kenapa pada akhirnya aku lebih konsen ke kuliner, setelah perjalanan bisnisku yang lain. Salah satunya karena rasa cinta dan penghormatanku kepada Ibu. Lho ?!
Ya... penghormatanku ke Ibu !! Beliau yang banyak mengenalkanku tentang resep masakan, sampai saat ini aku merasa masakan beliau sik paling top markotop. Masakan dengan ditambahi bumbu ikhlas dan cinta beliau kepada keluarganya. Dengan begini aku merasa lebih mudah mengingat beliau, lebih merasa selalu dekat beliau, sebab seringkali aku dan istriku merasa beliau masih ada, terlebih kematian Ibu saat itu emang tidak didahului sakit seperti kebanyakan. Ibu meninggal dalam kondisi duduk di kursi, dalam kondisi BERWUDLU menjelang sholat maghrib, tanpa mengeluh sakit sebelumnya kecuali sakit rematik di lutut. Subhanallah...Insya Allah itu berkah keistiqomahan Ibu tirakat, puasa sunnah dan sholat malam beliau. Doa beliau terkabul, 'ketika ajal menjemput tidak ingin sakit terlebih dulu hingga merepotkan orang lain' Pingin rasanya kelak !

Alhamdulillah dua hari sebelumnya aku sempat memaksa pulang kampung bareng dengan Salma anakku. Emang sejak merantau sekolah SMA ke Jogja, tiap aku merasa teringat-ingat Ibu biasanya aku harus segera memaksa diri untuk pulang. Sebab kalo ngga biasanya entah aku yang sakit, atau malah celaka. Ini aku titeni (ingat) betul. Kalo pas begitu biasanya emang Ibu merasa kangen banget.
Saat itu rasa kangen ke Ibu muncul lagi. Setelah mendaftarkan anakku sekolah, sebenarnya posisi keuangan kosong sebab habis untuk bayar sekolah juga kontrakan. Bahkan untuk biaya pulang pergi berdua pas banget, makanya istriku sempat mengusulkan untuk menunda dulu sampe habis gajian, dia ngga enak kalo pulang nanti ngga 'ninggalin'. Nyampe ke Cepu, Bapak-Ibu sehat2 aja. Dua hari aku di sana, anakku minta ditinggal nanti diantar ponakanku. Hari Senin aku pamit ke Jogja lagi, hari Rabu aku ditelpon ponakanku mengabarkan Ibu meninggal.
Lho kok jadi cerita Ibu meninggal, ga papa biar Pembaca lebih punya gambaran.

Mungkin aku merasa menemukan passion di sini, walaupun aku sendiri ngga pernah merasa menyesal dengan semua perjalananku selama ini. Dan aku juga ngga peduli ketika aku dianggap ngga fokus hingga dianggap cuma dapet upil sekalipun. Aku mendasari semua perjalananku dalam pencarian ilmu dan hikmah. Sekali lagi ketika duit belum sepenuhnya aku dapatkan, maka minimal aku harus dapat ilmu dan hikmahnya. Hingga aku merasa semua perjalanan tersebut tidak sia-sia.

Bubur Ayam Metropolis adalah langkah awal aku memulai kuliner, dan Insya Allah prospeknya bagus (siap buka cabang baru nyari tempat yang prospek, setelah yang di Pakem di-pending), termasuk nantinya aku arahkan untuk model jual paket. Bersama temen, setelah BAM Insya Allah segera disusul paket yang lain. Ini salah satu wujud ungkapan cintaku ke Ibu, aku merasa lebih dekat ke Ibu, lebih mudah mengingat Ibu, dan hasil semua ini semoga nantinya mampu membayar hutangku ke Ibu : IBADAH HAJI. Amin yaa Rabbal 'alamiin.

(Bersambung : Karena Cinta II (Istriku))

Friday, September 26, 2008

KAMU SALAH ! sebab TIDAK SAMA DENGAN AKU

Berpolemik, berbantahan, beradu argumen atau pun berselisih paham adalah fitrah manusia. Semuanya biasanya didasarkan atas argumen dan sudut pandang masing2. Makanya dari awal sebenarnya agama (red; Islam) telah memberi rambu bahwa perbedaan pendapat adalah rahmat. Masalahnya mana yang bisa dikategorikan rahmat dan tidak.

Mungkin ada baiknya kita kembali mengingat cerita tentang orang buta yang mencoba mendeskripsikan gajah hanya berdasar dari apa yang dia pegang dan raba. Yang satu menyatakan gajah seperti batang pohon, satunya seperti kipas yang lebar, lainnya menyatakan seperti batang sapu. Apakah masing2 mereka salah ? Tentu tidak!. Mereka akan salah ketika mereka menyalahkan orang lain, dan hanya meyakini kebenaran yang dia deskripsikan. Padahal bagi orang lain yang kebetulan 'melek' matanya tentunya deskripsi tentang gajah tidak sekedar yang masing2 mereka deskripsikan di atas.

Hikmah dari cerita pengantar tidur di atas, jangan2 selama ini kita berlaku dan bertindak layaknya orang2 buta yang sok 'melek' tadi. Jelasnya kita MENYALAHKAN orang lain BUKAN karena telah tahu kebenarannya, tapi karena orang lain tersebut TIDAK SAMA dengan diri kita, dengan komunitas kita, dengan kelompok kita.

Saya sering diajarkan ketika kita meyakini A, kemudian ada orang lain yang meyakini B, C, atau D. Tidak ada salahnya kita mencoba mempelajari dan memahami B, C dan D tadi, biarpun emang kita bener2 harus telah meyakini tentang A. Itu artinya kita telah menjadi orang yang 'lebih' sebab setidaknya kita memahami A, B, C, dan D. Dengan begitu Insya Allah akan lebih bijak. Sebab bisa jadi antara A, B, C dan D tadi ternyata secara hakikat di mata Allah SALAH. Hakikat kebenaran MUTLAK hanya milik Allah, bukan wewenang kita menilai, manghakimi atau mem-fatwa orang lain.

Keberagaman, termasuk keberagaman berpendapat harusnya kita pahami sebagai wujud kebesaran Allah. Titipan kebesaran-Nya tsb bisa kita 'pinjam' dengan sikap mampu menerima setiap perbedaan, terlebih perbedaan yang kita sebenarnya secara ilmu belum mampu mencari dan memahami jawaban dasar dan argumentasinya. Penyakit manusia seringkali SOK TAHU, dan SOK BENER.

Dengan sikap seperti itu, makanya saya bisa mengamini ketika ada yang menyampaikan 'fatwa' :"DILARANG/TIDAK DIBENARKAN secara agama bagi seorang lelaki yang akan mengawini wanita SEKAMPUNG-nya", sebab saya telah dijelaskan dasar dan 'dalilnya'. Penasaran....?? monggo aja !

Friday, August 22, 2008

Monday, August 11, 2008

Bisa ato Berani

Banyak orang yang BISA, tapi ternyata sedikit orang yang BERANI.
BISA belum tentu BERANI, tetapi BERANI Insya Allah BISA, hanya waktu masing2 berbeda, terkadang cepat terkadang lama.

BERANI hakikatnya berani menang, dan yang mendasar juga berani kalah. Berani untung juga harus berani rugi, berani manis juga berani pahit

Monday, May 5, 2008

Keep Smiling !

(Gambar aku copy dari Blog Pak Nano)

Apapun yang terjadi usahakan KEEP SMILING ! Insya Allah ini juga bagian dari ekspresi syukur kepada Allah, sekaligus media bersedekah kepada orang lain.

Sejelek dan se-wagu apapun ketika kamu senyum, tentulah lebih menyenangkan dilihat dibanding ketika kamu cemberut.

Dalam NLP diajarkan "motion create emotion, emotion create motion".

Friday, February 29, 2008

Mati

Innalillaahi Wainnailaahirojiuun…

Hari ini Gito Rollies, artis dan terakhir menjadi pendakwah meninggal dunia. Hari ini tentunya tidak hanya seorang Gito Rollies yang akan dikuburkan, maksud saya tiap hari selalu ada yang meninggal seperti halnya selalu ada yang terlahir.

Satu lagi bukti WAKTU mutlak menjadi rahasia Allah sebagai pemegang hak prerogative. Tidak hanya kematian, kemiskinan, kesuksesan, rejeki dll urusan waktunya hanya Allah Yang Maha Tahu. Sebagai hamba-Nya kita hanya dituntut berikhtiar dengan keyakinan dan keikhlasan sebab itu bagian dari syariah yang harus dijalani.

Satu catatan : kita terlahir dan hidup dalam kemiskinan bukanlah kesalahan, tetapi mati dalam kemiskinan itu baru kesalahan. Sebab Allah telah mengajarkan bahwa tiap waktu kita harus lebih baik dari waktu sebelumnya, bukan sama apalagi lebih buruk. Dan ketika waktu mati tiba, kita sudah tidak punya waktu lagi untuk memperbaiki.

Alangkah indahnya ketika kita mampu mengisi lembar demi lembar catatan hidup kita dengan kebaikan, kesuksesan sampai waktu ajal tiba. Kalaupun dalam perjalanan catatan kita ada yang buruk, segeralah diakhiri dengan kebaikan. Dan hendaknya kematian menjadi episode akhir yang happy ending, khusnul khotimah !!

Monday, February 25, 2008

Antara A sampai Z

Saya yakin seyakin-yakinnya (walah opo meneh iki !) bahwa diantara kita pernah merasa berdoa kepada Allah. Hanya saja terkadang Allah Yang Maha Tahu memberi jawaban lain kepada kita. Lantas gimana donk?

Allah telah menjanjikan bahwa SEMMMUUAAA doa hambaNya akan dikabulkan. Emang ada yang cash, di-pending, bahkan ada yang di-pending n dibayar nanti di akherat. Kelamaan donk ! (astagfirullah…!!)

Nggak mudah untuk meyakini janji Allah seperti itu. Terlebih seringkali kita sendiri secara hakikat nggak tahu persis apa yang sebenarnya kita inginkan dan butuhkan. Dengan bahasa lain sebenarnya apa yang baik menurut kita terkadang belum tentu baik menurut Allah, juga sebaliknya. Dan rasanya tak pantas kalo kita memprotes keputusan Allah, siapa sih elo? (kaya iklan rokok aja). Tetep saja hak prerogative ada di Tangan Allah, logikanya lagian minta kok maksa, terserah yang ngasih donk, tull nggak ?!

Tempo hari saya diberi pencerahan, semoga juga bermanfaat untuk renungan kita semua.

Ilustrasinya ketika kita minta A, terkadang Allah memberi Z. Secara hakikat tentulah pilihan Allah yang paling tepat untuk diri kita. Sekali lagi tidak mudah untuk meyakini ini!.
Kita merasa Allah memberi sesuatu yang bertolak belakang dengan yang kita inginkan. Sebab mindset dan believe kita telah mempercayai bahwa dari A ke Z terlalu panjang jaraknya sebab harus melewati B, C, D dst, jadi singkong diragiin, tapee deehh!!

Coba kalo sudut pandangnya kita rubah. Jangan bayangin B, C, D sampe Y, emang ini akan terasa panjang. Bagaimana kalo Z ke A lebih dekat dibanding Z ke O atau ke L. Bingung ?!

Kalo jawabannya Ya! Karena bisa jadi mindset kita tetep seperti yang pertama tadi dari Z harus berjalan mundur ke Y, X, W sampe B baru ke A. Bukan setelah Z bisa langsung kembali ke A !!

Masih bingung ?! Saya saranin kalo posisi Anda di Pulau Jawa berjalanlah ke arah selatan dan jangan berhenti sampe ketemu air asin yang berombak. Tambah bingung juga ! Ke laut ajaaaaaaaa!!!!!!

Friday, February 8, 2008

Inspirasi

"KEMARIN sudah lewat, ESOK belum tentu datang, kesempatan kita HANYA HARI INI"
"Adalah GILA jika menginginkan mendapatkan sesuatu yang BERBEDA, tetapi tiap waktu melakukan sesuatu yang selalu SAMA"

"Mustahil mendapatkan KESUKSESAN jika setiap waktu pikiran dan otak kita disesaki kekahawatiran KEGAGALAN"

Thursday, January 24, 2008

Doaku pagi ini !!

“Yaa Allah rahmat-Mu lebih aku harapkan daripada amalku, dan ampunanMu lebih luas dibanding seluruh gelimang dosaku. Tuntunlah aku dengan rahmatMu, bersihkan hati dan jiwaku dengan ampunanMu, agar aku punya arti”.

Kalimat di atas dulu diajarkan Guruku agar senantiasa kita mampu mawas diri dan tidak jumawa dihadapan siapapun terlebih dihadapan Ilahi Rabbi. Sebab sering kita riya dan sombong dengan apa yang kita lakukan (astagfirullah … jika sampai saat inipun aku pribadi juga sering seperti itu). Kita seakan lupa bahwa semuanya karena rahmat-Nya, dan bukan karena kepandaian manusia. Bahkan ketika kita sudah menyadari kesalahan-kesalahan yang dilakukan masih juga kita meragukan kesungguhan Allah untuk memberi ampunan seberapapun besar dosa manusia.

Kalaupun belum mampu menjadi pribadi yang punya arti, belum mampu memberi dan melayani, belum mampu menebar rahmat, setidaknya jangan menjadi parasit yang merugikan bagi yang lain. Sesuatu yang tidak punya arti tentunya sama halnya tidak ada, dan sesuatu yang merugikan layaknya harus disingkirkan. Siapakah dan sebagai apakah kita?