Sunday, October 25, 2009

Momentum Titik Balik

Insya Allah Kamis, 22 Oktober 2009 tempo hari aku telah menemukan momentum titik balik. Sementara belum aku share dulu sebab aku masih menunggu hasilnya sekitar satu dua bulan ke depan.

Kalo semuanya berjalan sesuai rencana, Subhanallah .... Allaahu Akbar ..... Aku masih meyakinkan diri bahwa ini bukan pilihan salah, semuanya tinggal mengikuti skenario yang digariskan oleh-Nya. Tidak ada yang kebetulan, sebab sebelum lahir pun semuanya telah ditulis-Nya. Kalo aku emang dipilih Allah menjadi bagian sejarah itu, sekali lagi aku hanya sanggup mengucap Subhanallah .... Allaahu Akbar ..... sekaligus beristighfar.

Sebuah gabungan teori Power of Giving, Quantum Ikhlas dan entah teori bisnis apa definisinya ... semoga memberi hasil sesuai rencana. Yaa ... Allah aku tetap mohon bimbinganmu untuk tetap bertawadlu kepada-Mu, dan tidak tuulul amal. Sebab Engkau telah menggariskan seberapa bagianku, dan seberapa yang bukan untukku ...

Aku mohon doa semuanya ......

Tuesday, October 20, 2009

$5 GRATIS tiap ngajak 1 member baru (daftar GRATIS !!)

Sebuah web people search engine menawarkan program GRATIS yang sangat menarik. Program ini memberikan $ 5 - 30 setiap berhasil mengajak member baru yang mendaftar GRATIS. Perlu diketahui $ 5 - 30 untuk sebuah program Pay Per Lead termasuk cukup besar dan sangat jarang.

Beberapa nama orang Indonesia sudah masuk daftar member yang telah menikmati hasil (artinya program ini valid tidak termasuk SCAM). Klik aja !! di http://acme-people-search.com/125proof.php?ref=1255333808ALLY

Pemrakarsa program ini, Tissa Godavirtane termasuk nama affiliater sukses dunia yang mampu menghasilkan pendapatan tidak kurang dari 2,2 juta dolar hanya dari salah satu program afiliasi yang dia ikuti.

Nah ... kenapa ngga dicoba menyusul Zainal Abidin – Tangerang yang mendapatkan $ 552 dan 4 nama lain dari Indonesia yang mendapatkan pembayaran di atas $ 200. ......

Tunggu Panduan format .pdf-nya !!

Tuesday, October 6, 2009

Menjadi Anak Muda

Oleh Prie GS (Budayawan)


Tiga persoalan besar yang saya hadapi begitu menginjak remaja ialah : pertama saya yang terlahir sebagai anak keluarga miskin, kedua tubuh saya yang tak bisa tinggi dan ketiga adalah kedudukan saya sebagai rakyat sebuah negara yang penuh korupsi.

Saya akan mulai dari kemiskinan itu dengan kelaparan sebagai akibat fisiknya dan rendah diri sebagai akibat psikologisnya. Karena kelaparan itulah seluruh makanan yang saya makan saat itu, satu di antaranya adalah soto kantin sekolah, terekam rasanya hingga saat ini di lidah saya. Kabar baiknya ialah bahwa soto itu adalah soto terenak di dunia yang sampai saat ini sulit saya mencari gantinya. Kabar buruknya soto itu menjadi enak, pasti bukan cuma karena rasanya, tetapi pasti lebih karena kemiskinan saya. Kantin sekolah itu buka setiap hari, tapi adalah anugerah jika saya sanggup membelinya seminggu sekali. Maka hari ketika nasib baik itu datang, entah karena ditraktir teman, entah sekali waku mendapat uang saku, saya menikmati soto ini dengan rasa takut. Takut jika akhirnya suapan terakhir benar-benar tiba.

Setiap kunyahan sudah saya setarakan dengan masuk surga saking nikmatnya. Maka ketika sendokan terakhir tiba dan mangkok itu benar-benar tandas hingga ke kuahnya, saya seperti terlempar kembali ke neraka. Saya tak mungkin nambah sementara perut dan lidah masih begitu bernafsu. Efeknya sungguh dramatis; rasa itu tak mau hilang baik di lidah dan jiwa saya hingga hari ini. Saya kesulitan membuat penebusan karena seluruh soto di Indonesia yang saya cicipi, tak seenak soto kantin sekolah itu. Benarkah? Tentu tidak. Saat itu pasti karena saya memiliki seluruh modal untuk makan enak : yakni kelaparan dan derita.

Tetapi penderitaan perut itu baru setengah dari permainan, karena setengahnya lagi berisi persoalan yang tak kalah berat : yakni lapar jiwa. Ia bernama perasaan rendah diri yang parah. Cukup hanya dengan melihat orang lain hidup wajar saja, tak perlu mereka harus kaya raya, melainkan sekedar bisa makan normal tiga kali sehari, sudah mendatangkan ketakjuban luar biasa. Bagaimana mungkin ada kehidupan sebaik itu dan bagaimana mungkin ada perut yang bisa diisi makanan begitu tepat waktu.

Jika kepada pihak yang sekadar bisa makan saja kami sudah memiliki ketakjuban maka jangan tanya jika kami sedang memandang sebuah keluarga yang punya radio, punya sepeda dan malah punya warung makan. Tak pasti sebulan sekali keluarga kami bisa membeli sekadar nasi bungkus dari warung itu. Betapa beruntung seseorang yang dilahirkan sebagai anak pemiliknya. Salah seorang di antara anak itu adalah teman sekolah saya. Dan kepadanya saya memandangnya bak anak seorang raja.

Apa yang sedang berlangsung di dalam diri saya saat itu? Kelaparan perut yang telah menjalar menjadi kelaparan mental. Di dalam struktur hidup, saya adalah pihak yang langsung menempatkan diri di landasan. Jika hidup adalah sebuah piramida, saya segera menganggap bagian paling bawah adalah tempat saya. Kebahagiaan pihak lain adalah sebuah panggung pertunjukkan dengan saya cuma sanggup menjadi penontonnya. Saat itu, hidup cuma berisi penderitaan seluruhnya. Begitu penuh saya tertelan oleh perasaan menderita itu hingga melupakan sebuah sudut kemiskinan yang ternyata berisi soal-soal yang saya syukuri di hari ini. Apa itu? Kegemaran memandang segala sesuatu dengan totalitas penghayatan. Inilah kemampuan yang menjadi pilar penting hidup saya di hari ini, yang akan saya ceritakan nanti.Kedua adalah kenyataan saya sebagai laki-laki yang tubuhnya tetap saja sementara teman-teman lain terus meninggi. Fakta ini pada mulanya hanya melengkapi derita saya belaka. Tak peduli sesial apapun hidup orang lain, ia adalah orang yang beruntung jika sedikit saja lebih tinggi dari tubuh saya. Dan puncak penderitaan ini terjadi ketika saya jatuh cinta dan celakanya selalu dengan teman sekolah yang selalu lebih tinggi tubuhnya. Ada yang menyambut cinta saya cuma dengan tertawa ringan dan ada yang sebetulnya siap jadi pacar tapi lama-lama tertekan lalu tidak tahan dan memilih putus sebelum benar-benar nyambung.

Lengkap sudah modal derita saya waktu itu, tetapi janga lupa : lengkap juga modal totalitas saya menghayati sesuatu. Dua penderitaan itu adalah musibah besar sekaligus modal yang sama besarnya untuk membentuk hidup saya di hari ini yang akan saya ceritakan setelah saya melewati derita ketiga: yakni terlahir sebagai rakyat Indonesia.

Saya tumbuh di sebua Orde ketika negara ada dalam kemampuan semu. Pembangunan tumbuh cepat tanpa saya tahu bahwa itulah pembanguan yang dibayai oleh hutang. Dan setengah dari hutang itu ternyata cuma bocor di kantong-kantong pribadi yang membuat negara tumbuh dipenuhi ironi. Negara yang banyak hutang di satu sisi ini adalah juga negara yang hendak mengamankan diri dengan memagari diri dengan membuat tekanan di sekujur lini. Bahkan berimajinasi pun tak bebas lagi. Hasilnya kesenian di sekitar saya berlangsung kering dan setengah hati. Film-film buruk dan daya kreasi mampat sama sekali. Hidup sebagai orang miskin, tanpa tinggi badan memadai dan sebagai rakyat kecil di sebuah negara yang dipenuhi korupsi, adalah derita yang sempurna.

Tetapi di hari ini, tiga modal penderitaan itulah juga yang membuat saya merasa memiliki tiga modal hidup dengan kekuatan setara. Makin besar derita saya, makin besar modal hidup saya. Itulah kenapa Uni Soviet malah memiliki banyak pemenang Nobel di saat politik negara sedang begitu buruknya. Modal derita itu, jika benar arahnya, akan menjadi aset tak terkira. Saya tidak ingin mengatakan bahwa untuk memiliki aset, seseorang harus lebih dulu menderita. Tidak. Saya Cuma ingin menegaskan bahwa tidak ada yang harus ditakuti dari sebuah derita jika seseorang memang harus menghadapainya.

Kini saya merasa, penghayatan saya atas sebuah konteks menjadi baik sekali. Kemampuan membaca keadaan itu, setahu saya lalu menjadi refleks. Jika seorang sedang butuh didengar saya akan menjadi pendengar. Tapi jika mereka sedang memerlukan saya bicara, saya akan bicara. Dari membiasakan diri mendengar dan bicara sesuai konsteksnya ini saja, membuat hidup saya berubah. Begitu sebuah kemampuan membuahkan hasil, saya jadi bergairah mengembangkan kemampuan berikutnya. Begitulah memang watak manusia. Begitu penyulutnya tiba, ia akan terbakar dengan segera karena memang tersedia bahan bakar tak terkira jumlahnya di dalam jiwa kita.

Model derita itulah yang kemudian membakar saya. Dalam periode terbakar ini berubahlah segala peta hidup. Yang saya maksud perubahan itu tidak selalu harus buru-buru dikaitkan bahwa sekarang saya sudah kaya raya, misalnya (walau tanda-tanda untuk itu ada). Kekayaan material itu, bagi pribadi yang sudah terbakar hanya soal hitung-hitungan sederhana. Tetapi saya ingin mendahulukan kekayaan mental. Pada saat itulah, jika Anda mulai ada di tahapan ini, pribadi Anda akan mulai menjadi magnet. Tak perlu menjadi selebriti untuk punya magnet seperti ini, tetapi secara substansial Anda adalah seorang selebriti kehidupan walau wajah Anda tak pernah disorot televisi.

Lalu siapa yang harus mewaspadai derita yang pernah saya alami itu? Terutama adalah anak muda. Adalah keliru jika penderitaan mereka hanya bersumber dari kemiskinan, tinggi badan dan semacamnya. Penderitaan anak muda ternyata jauh melampaui batas-batas itu karena di dalam usia remajalah berlangsung apa yang disebut masa gelap orientasi. Di saat itulah seluruh soal bisa terlihat sebagai derita dan anak-anak muda itu harus diberi tahu, bahwa pandangan itu sungguh sangat menipu.

Semarang 29 Agustus 2009

Tuesday, September 29, 2009

Karena CINTA (Istri n Anak)

Ternyata begitu lama tulisan ini terputus n mandeg ngga update postingan. Asyik 'berproses' jadinya postingan terabaikan.

Salah satu pertimbangan aku resign dari kantor dulu, pingin lebih berkah. Waduh ... kok kayaknya sok bersih banget. Repotnya terkadang di masyarakat kita pingin bersih dibilang sok, bersikap jujur dibilang 'terlalu lurus' ... he he lurus kok dibilang terlalu, ato mungkin karena sudah begitu banyak yang bengkok sehingga yang lurus terlihat beda bahkan mungkin aneh, ngga umum ...

Sueeer ... terasa ngga nyaman ketika penyakit karyawan kumat, tiap ngumpul temen ngrasani bos, ngrasani kerjaan, merasa ngga imbang kerjaan n gajian. Implikasinya sering nyuri2 waktu n fasilitas untuk hal lain di luar kerjaan, entah komputer, internet, telepon dll.

Padahal semuanya kan nanti ada pertanggungjawaban. Ke Bos ato owner gampang aja, tokh mereka ngga tahu tiap detik n menitnya, tapi pertanggungjawaban ke Yaa Rabb sekecil apapun ngga akan ada yang terlewat. Nah.. ketika semuanya berusaha aku ganti dgn rintisan usahaku sendiri, Insya Allah pertanggungjawabanku hanya kepada Allah langsung.

Tak mudah menyampaikan alasan ini bahkan ke istri sekalipun yang sebenarnya saya belain. Reaksi pertama kaget ngga nyangka secepat itu, pinginnya 'amphibi' sampe semuanya 'siap'. Tapi pilhanku saat itu dah mantap dan Allah pun menyiapkan skenarionya begitu rapi n elegan. Ketika semua proses menuju lebih baik ini belum sepenuhnya mulus aku belum bisa banyak 'berjanji' lagi ke istri n anak. Kelak aku yakin mereka semuanya akan bener2 mengerti atas pilihanku itu, bahwa aku benar2 memilih demi mereka, setidaknya demi keberkahan mereka.

Hal lain, aku jadi lebih banyak punya waktu untuk mereka, walaupun sekarang malah jadi istriku yang lebih kurang punya waktu untuk kami, aku berusaha memaklumi sebagai pengorbanan dia demi cinta ke suami n anak juga ketika suaminya masih 'berproses' seperti saat ini.

Atas alasan keberkahan, kelonggaran waktu dan lainnya aku berusaha mewujudkan inilah bukti cintaku demi mereka. Dan akan terasa lebih lengkap jika wujud cintaku kepada mereka ini nantinya terimplikasi berupa materi yang lebih dibanding saat sebelum ini, semuanya hanyalah waktu aja ... aku yakin kok.

Luv u all, de Yeyen, Salma, n Nasywa semoga fantasi tentang rumah kita segera terwujud ...

Saturday, December 6, 2008

Karena CINTA I (Ibu)

(Tulisan ini mungkin agak panjang dan aku buat bersambung sebagai gambaran jawaban kenapa pada akhirnya aku akhir2 ini lebih konsen ke bisnis kuliner. Pertama karena alasan cinta Ibu, cinta Istriku, cinta anakku, dan terakhir cinta cashflow-nya he he)

Ketika bulan Dzulhijjah begini biasanya aku lebih banyak meneteskan air mata dibanding bulan2 yang lain. Ada catatan hutang besarku yang belum terbayar untuk Ibuku sampe beliau meninggal 13 Juni 2005 lalu (tepat satu bulan Bapak mertuaku meninggal 13 Mei tahun sama). Hutang tersebut adalah MEMBERANGKATKAN HAJI Bapak/Ibuku !. Ketika beberapa waktu lalu di televisi ada sinetron hikmah tentang tukang bubur yang berhasil memberangkatkan haji keluarganya, satu sisi aku geli (kebetulan sekarang aku juga jadi tukang bubur he he) sisi lain aku berharap aku bisa seperti cerita di sinetron tsb terlebih gambaran ibu yang diperankan Nani Wijaya mirip dengan gambaran ibuku keseharian apalagi kalo pake daster. Entah berapa kali sinetron yang digagas Ust. Yusuf Mansur tsb diputer aku ngga pernah bosan melihatnya, dan tetap istiqomah BERURAI air mata (mellooow banget!). Aku berharap siapapun yang membaca tulisan ini nantinya mampu mengamini niatku untuk tetap bisa membayar hutangku tsb kepada ibuku biarpun beliau telah tiada yang Insya Allah KHUSNUL KHOTIMAH. Ini permohonan serius, sehingga Insya Allah jika suatu saat aku telah membayar hutangku tsb tentulah jenengan semua teraliri keberkahan doanya. Amin yaa Rabbal 'alamiin...

Saat ini aku emang lebih konsen menekuni kuliner, dimulai Bubur Ayam Metropolis (ini lagi ancang2 nyari tempat untuk Metropolis-2 yang Insya Allah dibarengi kemunculan 'den Lembu; serba sapi). Ada beberapa alasan kenapa pada akhirnya aku lebih konsen ke kuliner, setelah perjalanan bisnisku yang lain. Salah satunya karena rasa cinta dan penghormatanku kepada Ibu. Lho ?!
Ya... penghormatanku ke Ibu !! Beliau yang banyak mengenalkanku tentang resep masakan, sampai saat ini aku merasa masakan beliau sik paling top markotop. Masakan dengan ditambahi bumbu ikhlas dan cinta beliau kepada keluarganya. Dengan begini aku merasa lebih mudah mengingat beliau, lebih merasa selalu dekat beliau, sebab seringkali aku dan istriku merasa beliau masih ada, terlebih kematian Ibu saat itu emang tidak didahului sakit seperti kebanyakan. Ibu meninggal dalam kondisi duduk di kursi, dalam kondisi BERWUDLU menjelang sholat maghrib, tanpa mengeluh sakit sebelumnya kecuali sakit rematik di lutut. Subhanallah...Insya Allah itu berkah keistiqomahan Ibu tirakat, puasa sunnah dan sholat malam beliau. Doa beliau terkabul, 'ketika ajal menjemput tidak ingin sakit terlebih dulu hingga merepotkan orang lain' Pingin rasanya kelak !

Alhamdulillah dua hari sebelumnya aku sempat memaksa pulang kampung bareng dengan Salma anakku. Emang sejak merantau sekolah SMA ke Jogja, tiap aku merasa teringat-ingat Ibu biasanya aku harus segera memaksa diri untuk pulang. Sebab kalo ngga biasanya entah aku yang sakit, atau malah celaka. Ini aku titeni (ingat) betul. Kalo pas begitu biasanya emang Ibu merasa kangen banget.
Saat itu rasa kangen ke Ibu muncul lagi. Setelah mendaftarkan anakku sekolah, sebenarnya posisi keuangan kosong sebab habis untuk bayar sekolah juga kontrakan. Bahkan untuk biaya pulang pergi berdua pas banget, makanya istriku sempat mengusulkan untuk menunda dulu sampe habis gajian, dia ngga enak kalo pulang nanti ngga 'ninggalin'. Nyampe ke Cepu, Bapak-Ibu sehat2 aja. Dua hari aku di sana, anakku minta ditinggal nanti diantar ponakanku. Hari Senin aku pamit ke Jogja lagi, hari Rabu aku ditelpon ponakanku mengabarkan Ibu meninggal.
Lho kok jadi cerita Ibu meninggal, ga papa biar Pembaca lebih punya gambaran.

Mungkin aku merasa menemukan passion di sini, walaupun aku sendiri ngga pernah merasa menyesal dengan semua perjalananku selama ini. Dan aku juga ngga peduli ketika aku dianggap ngga fokus hingga dianggap cuma dapet upil sekalipun. Aku mendasari semua perjalananku dalam pencarian ilmu dan hikmah. Sekali lagi ketika duit belum sepenuhnya aku dapatkan, maka minimal aku harus dapat ilmu dan hikmahnya. Hingga aku merasa semua perjalanan tersebut tidak sia-sia.

Bubur Ayam Metropolis adalah langkah awal aku memulai kuliner, dan Insya Allah prospeknya bagus (siap buka cabang baru nyari tempat yang prospek, setelah yang di Pakem di-pending), termasuk nantinya aku arahkan untuk model jual paket. Bersama temen, setelah BAM Insya Allah segera disusul paket yang lain. Ini salah satu wujud ungkapan cintaku ke Ibu, aku merasa lebih dekat ke Ibu, lebih mudah mengingat Ibu, dan hasil semua ini semoga nantinya mampu membayar hutangku ke Ibu : IBADAH HAJI. Amin yaa Rabbal 'alamiin.

(Bersambung : Karena Cinta II (Istriku))