Friday, September 14, 2012

CITA-CITA ANAK


Lumayan lama ga update blog ini, terlebih akhir2 ini punya mainan baru di http://www.indonesiaprofitclicking.com (padahal masih ada 3 domain lain yang sudah dibeli tapi belum digarap kontennya, ibarate pesen kapling dulu tapi belum dibangun hehe)
Bicara tentang cita2 anak, ato juga cita2 semasa kita anak2 seringkali menemukan beragam kelucuan. Walaupun ada yang berbeda kultur kita dulu dengan anak2 era sekarang. Dulu, cita2 anak seringkali yang terungkapkan terdengar sangat ‘umum’ dan seperti ga banyak pilihan varian. Arsitek, insinyur, dokter, pilot, guru adalah beberapa contoh pilihan yang umum diinginkan anak2 jaman dulu. Tak banyak yang berani (terlebih di depan guru sekolah ataupun orang tua sekalipun) bercita2 menjadi artis, seniman, penulis ato pun hal2 lain yang dianggap ’berbeda’ bahkan aneh dan mungkin dianggap tidak memberi jaminan status dan finansial.
Sangat berbeda dengan anak2 era sekarang yang secara kultur lebih bisa ‘terbuka’, dan beberapa profesi yang dulu dianggap tidak mampu memberi jaminan status sosial dan finansial saat ini telah berbeda kesimpulan. Weiitts ...lha kok dadi serius ! (sori sekedar prolog aja)

Tuesday, January 10, 2012

Ngapain Sedekah Sedikit Ga Ikhlas …


Lha kok ?!
Iya, sebab sering kita mendengar komen yang saya anggap ‘jebakan syetan’, semisal :
  • Buat apa sedekah kalo ga ikhlas … (siapa juga yang berhak menilai, selain Allah Yang Maha Mengetahui. Mangkanya diikhlasin sedekah, gitu aja kok repot)
  • Sedekah kok dipamer2in … (daripada dipamer2in tapi ga sedekah)
  • Lebih baik sedekah sedikit yang penting ikhlas … (mendingan banyak dan ikhlas)
  • Sedekah itu seikhlasnya … (yang gini biasanya sedikit, dan siapa bilang sedekah harus nunggu ikhlas)
  • Senyum itu juga sedekah kok … (ga salah, tapi senyum ga bisa untuk beli beras, untuk makan ato untuk bayar sekolah)
  • Saya sedekah dengan doa … (ga salah, idem dengan sedekah senyum, n yakin loh doa ente terkabul?)

Wednesday, January 4, 2012

Indahnya Ajal (2)

Melanjutkan tulisan yang pertama Indahnya Ajal ... semoga ini menjadi tambahan bahan tafakur kita untuk mempersiapkan sebuah episode kepastian dalam hidup kita. Ya .. ajal adalah sebuah kepastian yang kita tidak tahu kapan datang, kita hanya dituntunkan untuk mempersiapkan akhir bahagia (khusnul khotimah) atau akhir derita (su'ul khotimah) ...

Adalah Bp Muhammad Paidi, imam Masjid Labasan Pakem, yang pada Jum'at 30 Desember 2011 selepas Sholat Isya beliau dipanggil Allah berpulang dalam kondisi BERSUJUD .... Subhanallah !!!

Hari itu beliau sempat khotbah Jum'at menggantikan imam lain yang telah dijadwal tapi ternyata berhalangan hadir. Ngga ada yang terlalu berbeda dalam isi khotbah beliau hari itu. Sore harinya beliau merasa kurang enak badan, sehingga berencana memeriksakan diri kondisi kesehatannya. Selepas maghrib beliau meminta salah satu anggota keluarganya untuk memanggil tenaga medis dari RS Panti Nugroho Pakem, dan dijanjikan datang selepas Isya.

Monday, December 5, 2011

Indahnya Ajal ... (Latifatunnisa & H. Wakidi)

Ajal, satu dari sekian banyak rahasia yg menjadi hak prerogatif Allah. Tidak ada yang tahu, kapan, dimana, dan bagaimana masing2 diri kita menemuinya. Semuanya menginginkan khusnul khotimah - akhir yang baik, pastinya!. Dan agama sebenarnya menuntunkan agar kita 'berpeluang' menjadi khusnul khotimah, hanya saja dalam hal ini Hasil Akhir tersebut SANGAT ditentukan Proses sebelumnya, tidak bisa dimanipulasi, tidak bisa instan dikondisikan happy ending ...


Kemarin, 05 Desember 2011 menjadi hari yang kembali memberikan ruang dan waktu atas kesadaranku untuk lebih mengingat ajal tadi. Yang pertama kabar meninggalnya Latifatunnisa (19 bln), yang beberapa waktu dirawat di RS Sardjito Jogjakarta. Sebenarnya aku sendiri ga mengenal langsung adik kecil ini juga keluarganya. Aku mengenal namanya dari Gerakan Peduli Berbagi, dan cerita lisan dari Mas Karman n Mas Cahyadi. Dan yang lebih membuat terasa 'nyeseg' ketika niatan membezuknya belum juga kesampaian keburu Allah memanggil demi menyayanginya ...

Monday, September 19, 2011

Aku jg pernah 'selingkuh'

Yap, ini serius ga bohong ... ketika selingkuh diartikan sebagai menduakan, men-tigakan ..... sesuatu yg menjadi pilihan pertama kita. Dan jelas jg bahwa hati nurani kita akan merasa bersalah, berdosa sebelum kemudian otak kiri dan ego kita memberikan apologi 'pembenaran' alasan 'perselingkuhan' tersebut .....

Weitttsss ..... tunggu dulu, jangan berprasangka terlalu jauh dulu. Ini bukan masalah rumah tangga, ataupun perselingkuhan cinta, tapi 'perselingkuhan' kerja !

Mangsudnya ??

Ketika masih berstatus sebagai 'karyawan' (bukan berarti sekarang nyombong sebagai juragan ato bos), aku lebih dari tiga kali pindah kerjaan. Tapi satu hal yang relatif sama, ternyata aku sebenarnya ga terlalu kerasan. Boring n suntuk dgn kerjaan biasanya kepake untuk surfing internet, ngobrol dgn temen kerja yang sama sekali ga ada hubungan masalah tanggung jawab kerjaan, bahkan pernah juga nyuri waktu untuk tidur pada jam kerja. Sepertinya sekedar menghabiskan waktu menunggu jam pulang.

Ketika di lapangan pun seringkali menyempatkan mampir entah kemana yg jelas itu semuanya ga ada hubungannya dgn kerjaan. Terlebih ketika dorongan pingin buka usaha sendiri mulai kenceng, nada-nada 'perselingkuhan' mulai menggoda dgn penuh kesadaran. Dilematis, nurani yang merasa bersalah karena kemudian memanfaatkan waktu, tenaga, pikiran, serta fasilitas kantor tidak cuma untuk kerjaan kantor (walaupun emang kemudian membuat 'pembenaran' sendiri) tapi juga 'menyempatkan' semua hal tsb untuk menduakan, men-tigakan pekerjaan. Mungkin kalo hal tsb dilakukan di luar jam kantor, ga masalah, sah2 saja ..... masalahnya ini aku lakukan pada jam kantor parahnya seringkali menggunakan fasilitas kantor ......

Bisa jadi kejadian yang analog dgn yg aku alami di atas sudah jamak terjadi, bukan sesuatu yang aneh, jangan2 malah ketika aku merasa 'mempermasalahkan' ini malah dianggap aneh ....
Tapi coba, sebelum memberikan sederet 'pembenaran' oleh olahan otak kita, rasakan dulu dengan nurani yang pastinya jujur, kira2 bener2 nyaman ngga kita melakukannya, ato setidaknya coba bayangkan seandainya kita berlaku sebagai pemilik perusahaan yang kemudian mendapati polah karyawan kita spt itu ...

Rasa ngga nyaman yang aku rasakan saat itu yang kemudian menuntunku memilih keputusan resign. Alasan tambahannya aku pingin menjemput keberkahan (sebab keberkahan bukan sekedar ditunggu), aku pingin mampu memberi manfaat n mencukupkan orang lain sb dgn begitu, yakin bahwa otomatis aku n keluargaku jg akan tercukupi ....
Trigger-nya, kemudian ada nasehat Pak Haji Alay (sesepuh Komunitas Tangan Di Atas) kurang lebihnya,"Seratus rupiah hasil kamu jualan kerupuk sendiri Insya Allah lebih barokah dibanding satu juta kamu di-GAJI orang lain" (maaf bkn bermaksud mendeskreditkan yg saat ini msh sbg karyawan ...)
Ini masalah KEYAKINAN HATI yg sifatnya sangat personal ...
Dan alhamdulillah ternyata Allah punya cara yang sangat elegan untuk 'memaksaku' resign dari perusahaan.

Bagaimana dgn kondisi hasil yang sekarang ...?? sambil menunggu ajal menjemput semuanya msh berproses. Dan rasanya lebih nyaman mengingat n mensyukuri yg telah Allah berikan dibanding mempermasalahkan hal2 blm didapatkan ......
.