Apa yang
muncul dalam persepsi Anda membaca judul di atas? Saya galau, marah, ato emang
gue pikirin kok nanya2? Mungkin sebagian telah memberi persepsi dan penilaian
tersendiri hanya dengan membaca judul tersebut, tanpa mau membaca isi tulisan
lanjutannya …. Monggo itu hak masing2 …
Pernah saya
membuat status FB yang kalimatnya senada dengan judul di atas, dan ternyata
komen beberapa temen beragam, …sebagian menganggap saya sedang marah, mengumpat
!. Hahaha … padahal saat itu aku sekedar iseng dan sengaja iseng pingin ngeliat
reaksi temen2 pada komen ….dan hipotesaku relatif berhasil!
Bahasa tulis
memang bisa berbeda makna dengan bahasa lisan. Bahasa tulis bersifat pasif, dan
pemahamannya seringkali berbanding lurus dengan pemahaman subyektif pembaca
yang sangat dipengaruhi oleh mindset,
tingkat pengetahuan dan keilmuannya. Artinya bahasa tulis mampu memberi
konotasi yang lebih beragam. Berbeda dengan bahasa lisan yang mampu dibedakan
pemaknaannya dari intonasi dan ekspresi pengucapannya. Walaupun sebenarnya juga
mampu bermakna beda ketika diucapkan antara orang Jogja ato Surabaya, misalnya.
Dalam kasus status
FB seperti judul di atas, ada yang menganggap umpatan karena mempersepsikan
saya sedang marah. Tanpa berusaha mengkonfirmasi atau bertanya ke saya
langsung, seolah merasa yakin betul dengan justifikasi kemarahan saya tersebut.
Lanjutannya bisa menjadi gunjingan, rerasan, dengan temen lain. Dan orang yang
seneng repot malah berusaha mencari siapa yang sedang saya ‘pisuhi’ tersebut,
kemudian seperti membuat skenario ato naskah cerita sendiri bak
penggalan-episode sinetron. Padahal seperti itu bisa menjadi fitnah to …
Berbeda
dengan yang komen,”Woo …bukan kucing” ato “mangkane njegog mas! (makanya
menggonggong mas!)” Yap …komen seperti ini yang bagi saya lebih positif, bagi
dirinya sendiri ato pun persepsi untuk saya. Yang ini lebih saya ‘benar’kan
karena memang makna ini yang lebih saya maksud. Sebab emang kenyataannya saya
tidak sedang misuh-mengumpat.
Ironisnya
seringkali dalam banyak kasus kita terjebak pada pemaknaan negatif dibanding
positif, sehingga yang kemudian muncul
pun aura negatif. Repotnya kemudian seperti saya dengan menulis judul di atas
ikut dipersalahkan dianggap ‘mengkondisikan’ dan ‘menggiring’ orang dalam
persepsi negatif. Kalo pun saya dipersalahkan sebenarnya saya bisa berapologi, kalimat ato tanda baca mana yang dianggap saya 'mengkondisikan' ato 'menggiring' dalam persepsi negatif? Lha wong kalimatnya cuma "Woo ...cen ASU" Ya gini kadang repotnya dah ‘salah’ malah menyalahkan orang lain. Hahaha
……alhamdulillahnya malaikat ga pernah salah mencatat dan membedakan mana yang
harus dicatat benar dan mana yang harus dicatat salah.
Itu salah
satu cara saya bertafakur. Weiits …mangsudnya? Ya …itu akan membuat saya
berusaha ‘memahami’ kenapa dalam agama ada khilafiyah
(perbedaan pendapat). Dan kemudian sangat wajar kalo ada dalil “Perbedaan
pendapat dalam Islam pada dasarnya adalah rahmat”. Dan Insya Allah saya akan
tetap mampu tersenyum dan ga perlu berdebat ketika dalam amalan dan pemahaman
Islam saya ada yang menilai bid’ah, dipersalahkan dan sebagainya. Alqur’an dan
Hadits yang saat ini saya jumpai dalam bahasa tulis belum saya pahami secara
benar. Terlebih saya juga ga paham bahasa Arab, yang tentunya terjemahan Bahasa
Indonesia ato pun Jawa belum sepenuhnya mampu memberi hakikat pemaknaan yang
sama. Itu yang memberi alasan kenapa saya tak merasa perlu berdebat ketika
dinilai salah. Sebab saya masih jauh dari hakikat kebenaran. Saya meyakini
kebenaran yang saya lakukan tapi tak harus menyalahkan orang lain yang berbeda,
mangkanya ….pinginnya saya ga dipersalahkan ketika berbeda dengan pemahaman
Anda. Sebab seperti ini yang kemudian menjadi ironi, kita sering menyalahkan
orang lain bukan karena mengetahui kebenaran tapi karena BERBEDA dengan kita
….
Woo ...cen BAJINGAN. Amin yaa rabbal a'lamiin.

0 komentar:
Post a Comment