Monday, January 9, 2012

Woo ...cen ASU


Apa yang muncul dalam persepsi Anda membaca judul di atas? Saya galau, marah, ato emang gue pikirin kok nanya2? Mungkin sebagian telah memberi persepsi dan penilaian tersendiri hanya dengan membaca judul tersebut, tanpa mau membaca isi tulisan lanjutannya …. Monggo itu hak masing2 …
Pernah saya membuat status FB yang kalimatnya senada dengan judul di atas, dan ternyata komen beberapa temen beragam, …sebagian menganggap saya sedang marah, mengumpat !. Hahaha … padahal saat itu aku sekedar iseng dan sengaja iseng pingin ngeliat reaksi temen2 pada komen ….dan hipotesaku relatif berhasil!
Bahasa tulis memang bisa berbeda makna dengan bahasa lisan. Bahasa tulis bersifat pasif, dan pemahamannya seringkali berbanding lurus dengan pemahaman subyektif pembaca yang sangat dipengaruhi oleh mindset, tingkat pengetahuan dan keilmuannya. Artinya bahasa tulis mampu memberi konotasi yang lebih beragam. Berbeda dengan bahasa lisan yang mampu dibedakan pemaknaannya dari intonasi dan ekspresi pengucapannya. Walaupun sebenarnya juga mampu bermakna beda ketika diucapkan antara orang Jogja ato Surabaya, misalnya.
Dalam kasus status FB seperti judul di atas, ada yang menganggap umpatan karena mempersepsikan saya sedang marah. Tanpa berusaha mengkonfirmasi atau bertanya ke saya langsung, seolah merasa yakin betul dengan justifikasi kemarahan saya tersebut. Lanjutannya bisa menjadi gunjingan, rerasan, dengan temen lain. Dan orang yang seneng repot malah berusaha mencari siapa yang sedang saya ‘pisuhi’ tersebut, kemudian seperti membuat skenario ato naskah cerita sendiri bak penggalan-episode sinetron. Padahal seperti itu bisa menjadi fitnah to …
Berbeda dengan yang komen,”Woo …bukan kucing” ato “mangkane njegog mas! (makanya menggonggong mas!)” Yap …komen seperti ini yang bagi saya lebih positif, bagi dirinya sendiri ato pun persepsi untuk saya. Yang ini lebih saya ‘benar’kan karena memang makna ini yang lebih saya maksud. Sebab emang kenyataannya saya tidak sedang misuh-mengumpat.
Ironisnya seringkali dalam banyak kasus kita terjebak pada pemaknaan negatif dibanding positif,  sehingga yang kemudian muncul pun aura negatif. Repotnya kemudian seperti saya dengan menulis judul di atas ikut dipersalahkan dianggap ‘mengkondisikan’ dan ‘menggiring’ orang dalam persepsi negatif. Kalo pun saya dipersalahkan sebenarnya saya bisa berapologi, kalimat  ato tanda baca mana yang dianggap saya 'mengkondisikan' ato 'menggiring' dalam persepsi negatif? Lha wong kalimatnya cuma "Woo ...cen ASU" Ya gini kadang repotnya dah ‘salah’ malah menyalahkan orang lain. Hahaha ……alhamdulillahnya malaikat ga pernah salah mencatat dan membedakan mana yang harus dicatat benar dan mana yang harus dicatat salah.
Itu salah satu cara saya bertafakur. Weiits …mangsudnya? Ya …itu akan membuat saya berusaha ‘memahami’ kenapa dalam agama ada khilafiyah (perbedaan pendapat). Dan kemudian sangat wajar kalo ada dalil “Perbedaan pendapat dalam Islam pada dasarnya adalah rahmat”. Dan Insya Allah saya akan tetap mampu tersenyum dan ga perlu berdebat ketika dalam amalan dan pemahaman Islam saya ada yang menilai bid’ah, dipersalahkan dan sebagainya. Alqur’an dan Hadits yang saat ini saya jumpai dalam bahasa tulis belum saya pahami secara benar. Terlebih saya juga ga paham bahasa Arab, yang tentunya terjemahan Bahasa Indonesia ato pun Jawa belum sepenuhnya mampu memberi hakikat pemaknaan yang sama. Itu yang memberi alasan kenapa saya tak merasa perlu berdebat ketika dinilai salah. Sebab saya masih jauh dari hakikat kebenaran. Saya meyakini kebenaran yang saya lakukan tapi tak harus menyalahkan orang lain yang berbeda, mangkanya ….pinginnya saya ga dipersalahkan ketika berbeda dengan pemahaman Anda. Sebab seperti ini yang kemudian menjadi ironi, kita sering menyalahkan orang lain bukan karena mengetahui kebenaran tapi karena BERBEDA dengan kita …. 
Woo ...cen BAJINGAN. Amin yaa rabbal a'lamiin.

0 komentar: